|
Enam Tembok Penghalang Kesuksesan - Part.3 |
|
|
|
|
Ditulis oleh Mangku Made Toesta
|
|
Rabu, 21 Oktober 2009 04:30 |
|
Om Swastyastu Tembok 3: Lobha/Serakah yang tak terkendali Pagi itu begitu cerah, sinar mentari menyapu sang rau, angin sejuk pegunungan berhempus dengan lembut seakan menyapa siapapun yang datang bertamu, burung-burung berkicau riang beterbangan dari satu dahan ke dahan yang lain, tak mau kalah, kupu-kupupun bercengkrama mesra menari riang di atas bunga-bunga yang mekar berwarna-warni menghiasi taman di depan pesraman sang Pandita. Tampak Sang Pandita bersama murid-muridnya sedang asyik berdiskusi dibawah pohon rindang di pinggir kolam dengan airnya yang jernih dihiasi oleh bunga teratai beraneka warna membuat takjub siapapun yang menyaksikan karya agung Tuhan Maha Esa. |
|
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 08 Maret 2010 12:40 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Enam Tembok Penghalang Kesuksesan - Part 2 |
|
|
|
|
Ditulis oleh Mangku Made Toesta
|
|
Senin, 19 Oktober 2009 04:24 |
|
Tembok 2: Marah yang tak terkendali Anakku sekalian, keinginan yang tak terkendali akan mengarah pada pemborosan sumber daya, artinya sumber daya terbatas yang dimiliki tidak diaplikasikan tepat guna. Pada akhirnya hajatan utama untuk meraih cita-cita terbentur karena kurangnya sumber daya, ibarat sebuah tembok yang sangat tebal terbuat dari besi baja, membendung laju kehidupan kita. "Nafsu keinginan tak pernah terpuaskan dengan menikmati objek keinginan itu, karena ia akan tumbuh semakin besar, seperti api yang dituangi bahan bakar’ demikian dinyatakan dalam Manu II.94 "Na jaatu kaamah kaamaanaam upabhogena saamyati Hawisaa krsnawartmewa bhuya ewabhiwardhate" "Guru, terimakasih banyak dengan penjelasan guru yang sangat gamblang, kini kami mengerti kenapa keinginan yang tak terkendali itu bisa menjadi sebuah penghalang yang hebat, bagaimana dengan tembok penghalang berikutnya…?Krodha (Marah) |
|
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 08 Maret 2010 12:40 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh komangakg
|
|
Jumat, 28 Agustus 2009 21:18 |
|
Catatan : Cerpen ini terinspirasi oleh kisah sebuah desa Bali Aga di Kabupaten Karangasem yaitu Desa Tenganan. Cerpen ini pernah diterbitkan oeh buletin KMHD UNY yang dibagikan dalam acara Perayaan Nyepi di Candi Prambanan Yogyakarta. Cerpen ini dapat juga dibaca di web blog pribadi penulis komangakg.wordpress.com
 Cerpen : Pesan Dari Alam Oleh : Komang Agus Krisna Guna Di sebuah kampung pedalaman di kaki bukit, ada kisah yang mengalir bersama sungai, sejarah dan waktu. Ini adalah kisah lama yang selalu diceritakan oleh penduduk kampung dari generasi ke generasi. Mereka berharap setiap anak yang lahir mengetahui cerita ini, untuk kemudian memetik makna dan memperbaiki kisah mereka kini. Alkisah, di masa lalu beberapa kilometer ke dalam hutan dari batas kampung, terdapat sebuah bangunan rumah tua yang konon dihuni oleh seorang nenek. Tidak ada penduduk kampung yang mengetahui jelas keberadaan nenek tua itu. Dan, entah sejak kapan penduduk mulai menyebut nenek tua itu dengan nama dadong alas. |
|
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 07 September 2009 11:36 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh administrator
|
|
Senin, 07 September 2009 09:44 |
|
Pesraman untuk siswa TK, SD, SMP dan SMA berlangsung selama 3 hari, mulai tanggal 24 sd 26 Agustus 2009. 
Untuk melihat foto-foto pesraman 2009 bisa dengan meng-klik disini. Atau langsung mengunjungi galeri banjar yang terdapat pada menu. |
|
Bencana Antara Cobaan, Peringatan dan Hukuman |
|
|
|
|
Ditulis oleh komangakg
|
|
Jumat, 28 Agustus 2009 20:46 |
|
Catatan : Ini merupakan tulisan pertama penulis yang dimuat dalam media. Tulisan ini diterbitkan oleh Warta Hindu Dharma Indonesia edisi Februari 2005. Tulisan ini ditulis beberapa hari setelah bencana Tsunami Aceh. Selamat membaca gaya penulisan seorang mahasiswa Hindu yang masih semester 4 kala itu.  Bencana Antara Cobaan, Peringatan dan Hukuman Oleh : Komang Agus Krisna Guna Seorang nabi pernah berkata mengenai jenis-jenis bencana, ia membagi bencana menjadi tiga menurut golongan kaum yang ditimpa bencana. Beliau berkata, "Sesungguhnya bencana yang diturunkan Tuhan untuk pengikut-pengikut setiaku hanyalah merupakan sebuah cobaan untuk menguji kesetiaan mereka, sedangkan bencana yang terjadi pada pengikutku yang lalai sesungguhnya adalah sebuah peringatan atas kelalaian mereka, dan bencana yang ditimpakan bagi orang-orang yang tidak mengikuti ajaranku, ketahuilah sesungguhnya bencana itu adalah hukuman atas kesesatan mereka." |
|
Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 28 Agustus 2009 23:30 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 6 |